fakta bunga edelweis (Foto: Pixabay/Sonja-Kalee)

BagunPendidikan - Bunga edelweis merupakan salah satu tanaman yang tumbuh di daerah pegunungan.

Tanaman dijuluki sebagai bunga abadi ini memiliki ciri khas berupa kelopak yang berwarna kuning, krem, dan sedikit keputihan.

Edelweis memiliki daya tarik tersendiri.

Keindahannya seringkali memicu keinginan para pendaki untuk memetiknya dan membawanya pulang.

Namun, ada larangan yang diterapkan terhadap tindakan memetik bunga tersebut.

Pengelola pendakian gunung memberlakukan sanksi bagi siapa saja yang nekat memetik edelweis.

Sebagai contoh, pengelola Gunung Prau akan memberikan sanksi berupa penggantian 100 kali lipat, jika ada pendaki yang terbukti merusak tanaman edelweis.

Di Gunung Gede Pangrango yang merupakan kawasan konservasi memiliki aturan yang jauh lebih lebih ketat.

Bagi pendaki yang memetik edelweis dapat dihukum penjara hingga 5 tahun dan dikenakan denda maksimal Rp 100 juta.

Lantas, mengapa edelweis dilarang dipetik? Berikut penjelasannya.

Fakta Bunga Edelweis

1. Bunga edelweis berasal dari Daerah Pegunungan

Fakta Bunga Edelweis yang pertama adalah berasal dari pegunungan dan habitat aslinya berasal dari wilayah Himalaya di Asia.

Awalnya, edelweis hanya dapat ditemukan di pegunungan tersebut.

Namun kini, edelweis dapat ditemui di berbagai pegunungan di seluruh dunia.

Selain Himalaya, edelweis juga dapat ditemukan di Pegunungan Alpen.

Di Indonesia, edelweis pertama kali ditemukan di lereng Gunung Gede, Jawa Barat oleh naturalis Jerman Georg Carl Reindwardt pada tahun 1819.

Itu artinya bunga ini telah ada di Indonesia selama lebih dari 200 tahun.

2. Nama Latin Bunga Edelweis adalah Leontopodium alpinum

Melansir dari Britannica, bunga yang akrab disebut sebagai bunga abadi ini memiliki nama latin Leontopodium alpinum yang merupakan jenis tanaman dari keluarga Asteraceae.

Sementara itu, di Indonesia bunga ini lebih dikenal dengan nama latin Anaphalic Javanica.

Edelweis memiliki ketinggian sekitar 5 hingga 30 cm.

Setiap bunga edelweis terdiri dari 6 hingga 9 kelopak daun yang berbulu dan berbentuk tombak.

Daunnya memiliki tekstur yang cukup lembut dan mudah rapuh ketika disentuh.

Keunikan bentuk dan struktur bunga ini menjadi salah satu daya tarik utama, khususnya di daerah pegunungan di Indonesia di mana edelweis tumbuh secara alami.

3. Arti Bunga Edelweis dan Sebutan Lainnya

Sesuai dengan namanya, arti bunga edelweis adalah mulia dan putih.

Nama ini berasal dari bahasa Jerman yakni 'edel' dan 'weiss' yang artinya putih.

Selain itu, bunga ini juga dikenal sebagai Wollblume (Bunga Wol) atau Klein Löwenfuss (Kaki Singa Kecil).

Meski tidak tumbuh ditaman, namun edelweis memiliki bentuk yang sangat indah untuk diberikan kepada pasangan. Biasanya bunga ini dikeringkan dan dirangkai dalam bentuk buket.

4.  Alasan Kenapa Bunga Edelweis Tidak Boleh Dipetik

Fakta Bunga Edelweis yang keempat adalah adanya larangan untuk memetik bunga tersebut.

Ada beberapa alasan mengapa bunga edelweis tidak boleh dipetik.

Hal ini melibatkan faktor-faktor hukum, konservasi, dan keberlanjutan lingkungan.

Pertama, larangan ini berdasarkan Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem (UU No. 5 Tahun 1990) yang secara tegas melarang pemetikan bunga edelweis. Pelanggaran terhadap aturan ini dapat mengakibatkan sanksi hukum, termasuk denda besar.

Selain itu, bunga edelweis sering ditemukan di kawasan konservasi alam, di mana undang-undang secara ketat melarang pemetikan atau pemburuan tumbuhan dan hewan.

Hal ini bertujuan untuk memastikan keberlanjutan ekosistem alam dan menjaga keseimbangan alam yang rapuh.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. P.20/ Menlhk/ Setjen/ Kum.1/ 6/ 2018 juga mengonfirmasi status perlindungan bunga edelweis sebagai jenis tumbuhan yang harus dilindungi.

Selain aspek hukum, terdapat sanksi hukuman dalam Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 mengenai Kehutanan bagi pelanggar yang memetik bunga edelweis, mencakup ancaman penjara maksimal 5 tahun dan denda hingga Rp 50 juta.

Dengan demikian, larangan memetik bunga edelweis tidak hanya bersifat hukum semata, tetapi juga berperan penting dalam pelestarian dan perlindungan terhadap keberlanjutan ekosistem alam serta keindahannya di lingkungan alaminya.

5. Populasinya Terancam karena Oknum Pendaki yang Nakal

Populasi bunga edelweis menghadapi ancaman serius akibat ulah oknum pendaki yang tidak bertanggung jawab.

Meskipun sudah ada larangan yang jelas dan ancaman sanksi yang tegas terhadap pemetikan bunga ini, namun masih terdapat oknum-oknum yang nekat dan melanggar aturan dengan memetik edelweis secara liar.

Tercatat beberapa kasus pemetikan bunga edelweis di berbagai gunung selama kurun waktu 2017 hingga 2020.

Contohnya, pada tahun 2017, lima pendaki terbukti mencabut edelweis di Gunung Rinjani.

Pada 2018, insiden serupa terjadi di Gunung Ciremai, Jawa Barat.

Tindakan yang merugikan ini tidak hanya merusak keberlanjutan ekosistem, tetapi juga melanggar peraturan konservasi dan hukum yang ada.

Oknum pendaki yang nakal menjadi ancaman serius terhadap edelweis, sehingga diperlukan penegakan aturan yang lebih ketat dan upaya edukasi untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian flora dan fauna di pegunungan

6. Dapat Tumbuh Hingga 4 Meter

Fakta Bunga Edelweis berikutnya adalah dapat tumbuh hingga setinggi 4 meter.

Informasi ini diungkapkan dalam buku 100 Fakta Unik Tumbuhan yang ditulis oleh Ayesha Sophie Sayyida (2019), yang mencatat keberadaan 636 batang tumbuhan edelweis di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada tahun 1988.

Terdapat jenis edelweis lain yang bahkan dapat tumbuh lebih tinggi, mencapai ketinggian 8 meter di atas permukaan tanah, dengan batangnya yang dapat mencapai seukuran kaki manusia, yakni sekitar 1 meter.

Edelweis memiliki masa pertumbuhan yang cukup lama, yaitu dapat tumbuh hingga 10 tahun. Meskipun memiliki karakteristik yang unik, saat ini edelweis menghadapi ancaman kepunahan.

Oleh karena itu, pemerintah telah berupaya membudidayakan bunga edelweis sebagai langkah untuk melestarikannya dan menjaga keberlanjutan ekosistem di pegunungan.

7. Simbol dan Makna Bunga Edelweis

Bunga ini memiliki beragam makna dan simbol.

Secara harfiah, edelweis mengandung makna mulia dan putih, kemudian menjadi simbol kepolosan, kemurnian, awal yang baru, harapan akan kedamaian, keanggunan, kejujuran, dan kesempurnaan.

Selain itu, edelweis melambangkan simbol keberanian dan cinta.

Keberanian tercermin dari tempat tumbuhnya yang ekstrem, di dataran yang sangat tinggi dan terpapar cuaca ekstrim pegunungan.

Bunga ini dilambangkan sebagai simbol cinta yang abadi, karena kesulitan untuk memetiknya dan keindahan yang tetap mekar selama bertahun-tahun.

Kemampuan bunga ini untuk bertahan dan mekar dalam jangka waktu yang lama disebabkan oleh hormon etilen yang terkandung di dalamnya yang mencegah kerontokan kelopak bunga.

8. Dijuluki Sebagai Bunga Abadi

Bunga edelweis sering dijuluki sebagai bunga abadi.

Julukan ini tidak hanya mencerminkan keindahan fisiknya yang tahan lama, tetapi juga merujuk pada sifat keabadian yang dimilikinya.

Keunikan dari edelweis terletak pada daya tahannya yang luar biasa di lingkungan pegunungan yang keras.

Penyebutan bunga abadi juga dapat dikaitkan dengan sifat biologisnya.

Edelweis mengandung hormon etilen yang berfungsi untuk menekan hormon pertumbuhan. Akibatnya, bunga ini dapat mempertahankan keindahannya tanpa gugur dan mekar hingga sepuluh tahun lamanya.

9. Tumbuh pada Bulan April

Fakta bunga edelweis selanjutnya adalah memiliki periode tertentu untuk mekar, dan tidak tumbuh sepanjang tahun. Tanaman ini biasanya mekar antara bulan April hingga September.

Biasanya, edelweis akan mekar setelah musim hujan.

10. Manfaat Bunga Edelweis Sebagai obat tradisional

Fakta Bunga Edelweis lainnya adalah sebagai obat tradisional.

Edelweis Jawa cukup dikenal memiliki manfaat sebagai obat penyembuh.

Ekstrak dari bunga ini memiliki kandungan antioksidan yang tinggi, mampu memberikan dukungan dalam penyembuhan berbagai macam penyakit.

Penelitian telah menunjukkan bahwa ekstrak bunga Edelweis memiliki sifat antimikroba, efektif melawan jamur dan bakteri, serta memiliki kandungan anti peradangan.

Bunga edelweis juga dipercaya memiliki manfaat sebagai obat batuk dan dapat digunakan dalam pencegahan kanker payudara.

Beberapa studi bahkan menunjukkan potensinya dalam membantu pengobatan penyakit serius seperti difteri dan tuberkulosis (TBC).

Edelweis menjadi pilihan yang menarik sebagai bahan alami dalam dunia pengobatan.

Meski begitu, sebelum menggunakan edelweis disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli kesehatan.

Penggunaan yang tepat dan aman perlu dikonfirmasi agar manfaatnya dapat dioptimalkan tanpa menimbulkan risiko kesehatan yang tidak diinginkan.

11. Tercetak di Logo Perangko

Fakta bunga edelweis selanjutnya adalah sebagai logo perangko.

Pada 2003, Kantor Pos Indonesia merilis perangko yang memvisualkan bunga edelweis sebagai bagian dari desainnya.

Perangko tersebut tidak hanya memiliki ukuran yang kompak dengan nilai nominal sebesar Rp 3.000, tetapi juga disusun sebagai bentuk penghormatan terhadap keelokan bunga edelweis yang kala itu tengah menghadapi ancaman kepunahan.

12.  Budidaya Bunga Edelweis Terdapat di Jawa Timur

Bunga Edelweis dibudidayakan di Jawa Timur.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan Universitas Brawijaya telah berhasil membudidayakan tanaman edelweis.

Hasil penelitian ini diimplementasikan bersama Universitas Gadjah Mada dengan membentuk Desa Edelweis yang telah berdiri sejak tahun 2017.

Lokasinya berada di kawasan penyangga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tepatnya di ketinggian 1.900 mdpl di Kabupaten Pasuruan.

Proyek ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat Desa Wonokitri, Tosari, Pasuruan, Jawa Timur.

13. Bunga Edelweis Bagian dari Adat

Suku Tengger melestarikan bunga edelweis di Gunung Bromo sebagai bagian adat mereka.

Di dataran tinggi Bromo, penduduk suku Tengger secara swadaya membantu mengembangkan bibit dan menanam Edelweis di halaman rumah masing-masing.

Edelweis tidak hanya dianggap sebagai tanaman hias, melainkan juga menjadi bagian penting dari ritual adat suku Tengger yang diwariskan secara turun temurun.

Dalam keseharian, masyarakat suku Tengger menyebut edelweis dengan sebutan "tana layu".

Kata "tana" berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tidak, sementara "layu" merujuk pada arti layu.

Dari penamaan ini, edelweis dikenal sebagai bunga abadi.

Bagi suku Tengger, edelweis bukan hanya sekadar tanaman, melainkan simbol keabadian yang memiliki nilai spiritual dan budaya yang tinggi.

14.  Sebagai Simbol Cinta

Bunga Edelweis melambangkan cinta.

Edelweis mengandung makna filosofis yang mencerminkan perjalanan cinta yang tidak mudah.

Proses mendaki gunung menjadi perwujudan perjuangan, kesabaran, dan ketekunan dalam meraih kebahagiaan cinta yang sejati.

Edelweis juga mengajarkan tentang kebijaksanaan dalam melestarikan keindahan alam.

Larangan memetiknya mengingatkan akan pentingnya menghargai tanaman langka ini tanpa merusak keberlangsungan hidupnya.

Filosofi ini mengajarkan bahwa keindahan sejati perlu dijaga dan dilestarikan agar tetap abadi.

15. Dapat Bertahan Hidup di Tanah Tandus

Fakta bunga Edelweis yang terakhir adalah dapat bertahan hidup di tanah tandus. Edelweis memiliki cara unik untuk bertahan hidup di tanah yang tandus.

Bunga ini memiliki kemampuan membentuk hubungan simbiosis dengan jamur mikoriza.

Melalui koneksi ini, edelweis dapat memperluas jangkauan akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam menyerap zat-zat nutrisi dari tanah yang mungkin kurang subur.

Itulah beberapa fakta bunga Edelweis yang mungkin sedang kamu cari.

Keindahan dan filosofi yang terkandung dalam bunga ini memberikan pesan tentang cinta, keabadian, dan kebijaksanaan dalam menjaga alam.

Semoga wawasan ini dapat menginspirasi dan menambah kekaguman terhadap keunikan bunga edelweis, yang tak hanya memikat mata tetapi juga menyiratkan makna yang mendalam.


Tag :