Hukum Mengumandangkan Adzan (Winda:Canva)

Adzan adalah suatu tanda panggilan untuk seluruh umat muslim agar segera menunaikan shalat lima waktu setiap harinya yang didasarkan atas ketentuan hukum yang telah ditetapkan.

Mengutip dari buku berjudul Shalat Empat Mazhab karya Syeikh Abdurrahman Al-Jazir (2019), terdapat berbagai pendapat mengenai hukum adzan menurut para ulama 4 mazhab.

Para ulama menyepakati bahwa hukum mengumandangkan adzan adalah sunnah muakkad, kecuali dalam pandangan Hambaliyah yang menganggapnya sebagai fardhu kifayah.

Menurut ulama Hambaliyah, adzan dianggap fardhu kifayah saat melaksanakan salat lima waktu.

Jika seseorang telah mengumandangkan adzan, maka telah gugur kewajiban yang lain untuk mengumandangkannya bersamaan dan hanya wajib menjawabnya dengan doa.

Lantas, apa saja hukum mengumandangkan adzan lainnya? Agar kamu lebih memahaminya, berikut akan kami ulas selengkapnya pada artikel di bawah ini, ya!

1. Syafiiyah

Dalam mazhab Syafiiyah, azan dianggap sebagai sunnah kifayah, yang berarti bahwa di dalam shalat berjamaah, cukup satu orang yang mengumandangkan azan untuk seluruh jamaah.

Namun, adzan menjadi sunnah ain bagi individu yang shalat sendirian jika mereka mendengar azan yang sudah dikumandangkan oleh orang lain sebelumnya.

2. Hanafiyah

Dalam mazhab Hanafiyah, hukum mengumandangkan adzan ialah sunnah muakkad kifayah.

Ini berarti bahwa adzan harus dikumandangkan oleh setidaknya satu orang dalam komunitas agar salat berjamaah dapat dilaksanakan, dan meninggalkan adzan dianggap sebagai dosa.

Azan sunnah muakkad ini harus dikumandangkan dalam shalat lima waktu, baik ketika seseorang berada dalam perjalanan (safar) maupun di tempat tetap.

3. Malikiyah

Dalam mazhab Malikiyah, hukum mengumandangkan adzan adalah sunnah kifayah bagi mereka yang menunggu pelaksanaan shalat berjamaah.

Oleh karena itu, azan sunnah kifayah seharusnya dikumandangkan di setiap masjid, bahkan jika jarak antara masjid-masjid tersebut sangat dekat.

4. Imam an-Nawawi

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa saat seseorang mengumandangkan azan, disunnahkan untuk melakukannya dengan tartil (dengan pengucapan yang jelas) dan suara yang keras.

Namun, ketika mengumandangkan iqamah, disarankan untuk melakukannya dengan idraj (membaca dengan cepat) dan suara yang lebih pelan dibandingkan dengan azan.

Selain itu, pada saat muadzin mengumandangkan azan dan iqamah, disunnahkan untuk berdiri tegak dengan badan yang suci, mengenakan pakaian yang layak, dan berada di tempat yang tinggi, sambil menghadap ke arah kiblat.

Imam an-Nawawi juga mencatat bahwa jika muadzin mengumandangkan adzan sambil membelakangi kiblat, duduk, berbaring, tidak memiliki wudhu, atau dalam keadaan junub, maka tindakan ini dianggap sebagai makruh.

Kemakruhan dalam hal junub dianggap lebih besar dibandingkan dengan tidak memiliki wudhu, dan kemakruhan dalam mengumandangkan iqamah dianggap lebih besar daripada mengumandangkan azan.

Maka dari itu, hukum mengumandangkan adzan dan iqamah adalah sunnah kifayah berdasar dari suatu hadits yang berbunyi

“Ketika telah datang waktu shalat, maka adz─ünlah salah satu di antara kalian”. (HR. Bukhari & Muslim).

Menurut Imam Hanafi, Syafi’i, dan Imamiyah adzan merupakan sunnah muakkad.

Adapun menurut Imam Hambali adzan adalah Fardhu kifayah di desa-desa dan kota-kota pada setiap shalat lima waktu bagi laki-laki yang mukim bukan musafir.

Syarat Adzan dan Iqomah disunahkan pelaksanaannya pada shalat fardhu (shalat lima waktu), walaupun shalat qadha’ baik shalat berjama’ah maupun shalat sendiri, dan bukan untuk lainnya seperti shalat sunah, shalat jenazah, dan shalat nadzar.

Demikianlah informasi seputar ketentuan hukum adzan menurut berbagai ulama. Sebagai umat muslim wajib panjatkan doa setelah adzan berkumadang.

Semoga ibadah kita semakin ditingkatkan agar dapat memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.


Tag :