Hukum Pembagian Warisan Menurut Islam (Winda:Canva)

Isu perpecahan keluarga terjadi disebabkan pembagian harta warisan yang kurang adil.

Untuk menghindari pertikaian semacam itu, Allah SWT telah menetapkan hukum pembagian warisan menurut Islam.

Cara pembagian warisannya pun berdasarkan perhitungan pecahan yang telah ditentukan (furudh muqaddarah).

Hal ini bertujuan untuk menjaga agar proses pembagian harta warisan berjalan adil dan sesuai dengan ketentuan agama, serta mencegah terjadinya perselisihan di antara ahli waris.

Lalu, bagaimana dasar hukum pembagian warisan? Temukan penjelasan lengkapnya pada artikel berikut ini, ya!

Hukum Pembagian Warisan

Dasar hukum pembagian warisan telah tercantum dalam Surat An Nisa ayat 11 yang berbunyi:

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِىٓ أَوْلَٰدِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ ٱلْأُنثَيَيْنِ ۚ فَإِن كُنَّ نِسَآءً فَوْقَ ٱثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِن كَانَتْ وَٰحِدَةً فَلَهَا ٱلنِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَٰحِدٍ مِّنْهُمَا ٱلسُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِن كَانَ لَهُۥ وَلَدٌ ۚ فَإِن لَّمْ يَكُن لَّهُۥ وَلَدٌ وَوَرِثَهُۥٓ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ ٱلثُّلُثُ ۚ فَإِن كَانَ لَهُۥٓ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ ٱلسُّدُسُ ۚ مِنۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِى بِهَآ أَوْ دَيْنٍ ۗ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Latin: Yụṣīkumullāhu fī aulādikum liż-żakari miṡlu ḥaẓẓil-unṡayaīn, fa ing kunna nisā`an fauqaṡnataini fa lahunna ṡuluṡā mā tarak, wa ing kānat wāḥidatan fa lahan-niṣf, wa li`abawaihi likulli wāḥidim min-humas-sudusu mimmā taraka ing kāna lahụ walad, fa il lam yakul lahụ waladuw wa wariṡahū abawāhu fa li`ummihiṡ-ṡuluṡ, fa ing kāna lahū ikhwatun fa li`ummihis-sudusu mim ba'di waṣiyyatiy yụṣī bihā au daīn, ābā`ukum wa abnā`ukum, lā tadrụna ayyuhum aqrabu lakum naf'ā, farīḍatam minallāh, innallāha kāna 'alīman ḥakīmā

Artinya: “Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagia dua orang anak perempuan dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Selain itu, mengutip dari buku berjudul Hukum Waris Islam karya Dr Suryati, SH, MH (2017), hukum pembagian warisan menurut Islam adalah suatu peraturan yang mengatur proses perhitungan dan pembagian harta secara adil merata kepada ahli waris atau penerima yang sah setelah seseorang meninggal dunia sesuai dengan kitab suci Al-Qur;an dan ajaran Islam.

Nantinya harta ini akan dirasakan oleh semua orang yang berhak menerimanya sesuai dengan persentase perhitungan.

Islam juga secara khusus mengajarkan tentang aspek pembagian warisan melalui ilmu faraid.

Syarat Ahli Waris

Adapun syarat ahli waris dalam Islam, di antaranya:

  • Seseorang dianggap telah meninggalkan dunia atau secara resmi dinyatakan meninggal (oleh putusan hakim).
  • Ahli waris masih ada dalam kehidupan saat pembagian warisan terjadi.
  • Hubungan antara ahli waris dan pewaris dapat bersumber dari ikatan perkawinan, keturunan, atau tindakan pembebasan budak.
  • Mereka memeluk agama yang serupa, yaitu Islam.

Dalil Hukum Waris

Dalill hukum waris dalam Islam diambil dari tiga sumber utama yaitu :

1. Al-Qur'an

Al-Qur'an dengan jelas mengatur tentang pembagian warisan, dan ini diuraikan dalam ayat-ayatnya yang terdapat dalam surat An-Nisa dan Al-Anfal, seperti:

  • Surat An-Nisa ayat 1 menggambarkan pentingnya hubungan keluarga dan keturunan.
  • Surat Al-Anfal ayat 75 menjelaskan hak-hak kerabat berdasarkan hubungan darah, dengan memberi prioritas pada beberapa kerabat dibandingkan yang lain.
  • Surat An-Nisa ayat 7 menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam menerima warisan dari orang tua dan kerabat mereka, mengubah norma yang berlaku pada masa Jahiliyah.
  • Surat An-Nisa ayat 8 menginstruksikan agar kerabat, anak-anak yatim, dan orang miskin yang hadir saat pembagian warisan juga diberikan bagian, sehingga mereka dapat merasakan manfaat dari harta tersebut.
  • Surat An-Nisa ayat 9 memberikan peringatan agar selalu memperhatikan anak cucu yang akan ditinggalkan agar mereka tidak menghadapi kesulitan karena tindakan orang tua yang tidak bijak dalam mengelola harta mereka.
  • Surat An-Nisa ayat 10 menekankan pentingnya menjaga dengan baik harta warisan yang menjadi hak anak-anak yatim, dan melarang penggunaan yang tidak sah atas harta mereka.
  • Surat An-Nisa ayat 11 dan 12 menetapkan bagian-bagian yang harus diberikan dalam pembagian warisan.

2. Hadits Rasulullah SAW

Selain Al-Qur'an, Rasulullah juga menjelaskan hukum warisan melalui hadits-haditsnya. Contoh hadits tersebut mencakup:

  • Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim yang mengklarifikasi bahwa dalam warisan, ahli waris laki-laki yang lebih dekat dengan almarhum memiliki hak yang lebih besar atas sisa harta warisan, setelah bagian-bagian tertentu diberikan kepada ahli waris lainnya.
  • Hadits yang diabadikan dalam kitab HR Ahmad dan Abu Daud yang menetapkan bahwa harta warisan orang yang tidak memiliki ahli waris akan diserahkan kepada baitul mal (kas negara).
  • Hadits yang diriwayatkan oleh HR Ahmad yang menyatakan bahwa anak yang masih dalam kandungan juga berhak atas warisan setelah lahir dan menunjukkan tanda kehidupan dengan menangis saat lahir.
  • Hadits yang diakui oleh mayoritas ulama kecuali Muslim dan Nasa'i yang menjelaskan bahwa seorang Muslim tidak dapat menjadi ahli waris bagi seorang kafir, dan sebaliknya.
  • Hadits yang ditemukan dalam kitab HR Ahmad, Malik, dan Ibnu Majah yang mengatur bahwa pembunuh tidak memiliki hak atas warisan korban yang telah dibunuh.
  • Contoh lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yang memberikan contoh pembagian warisan untuk seorang anak perempuan, seorang cucu perempuan (dari anak laki-laki), dan seorang saudara perempuan.

3. Ijtihad Ulama

Sementara Al-Qur'an dan Hadits Rasul telah memberikan panduan yang jelas, masih ada ruang bagi ijtihad ulama untuk mengatasi situasi khusus.

Seperti kasus warisan anak yang khuntsa (ganda jenis kelamin), atau untuk menentukan siapa yang berhak atas sisa harta warisan yang belum terbagi secara merata.

Dengan memahami hukum pembagian warisan menurut Islam beserta syarat dan dalilnya, kita dapat menjaga agar proses pembagian harta warisan berjalan adil sesuai dengan ketentuan agama, dan menghindari perselisihan.

Semoga kita semua bukan orang yang serakah ketika menerima warisan, ya.


Tag :